Kamu

Hari ini kamu membuat saya ingin bercerita.
7 bulan yang lalu, saya memutuskan hadir lagi dikehidupanmu dengan kata pembuka ‘kangen’.
Selama 7 bulan itu saya terus yang merindukan tanpa pernah dirindukan.
Saya selalu bertanya – tanya kenapa kamu selalu menerima saya saat saya kembali lagi ?
Kenapa kamu selalu memenuhi permintaan saya saat saya menginginkanmu ?
Selama saya kembali, saya bisa menghitung berapa kali kamu mengucap rindu kepada saya.
Saya menghitung sambil menerka - nerka apakah itu rindu sungguhan ?
Sebaliknya, saya yang tidak pernah bisa menghitung berapa kali saya mengucap rindu kepada kamu ?

Mudah sekali menebak seseorang masih membutuhkan kita atau tidak.
Hari itu saya terlalu sibuk untuk sekadar membuka notifikasi di layar facebook.
Saya terlalu sibuk untuk marah – marah kepada kamu kenapa kamu tidak memberikan ucapan selamat hari lahir kepada saya.
Saya terlalu sibuk tetapi diam - diam saya berharap.

Kamu mengirim pesan, bertanya tentang aktifitas saya, yang saya jawab ‘Entah’ itu juga bentuk harapan agar kamu segera menghubungi saya dan meminta maaf.
Hari itu saya baik – baik saja karena ada hal yang lebih penting yang menyita perhatian saya.

Setelah saya merasa mempunyai waktu, saya putuskan untuk membuka notifikasi facebook dan membalas doa mereka satu persatu.
Ada nama kamu tertera disana, yang seketika langsung menyadarkan saya ternyata saya tidak begitu penting buat kamu.
Kamu punya waktu mengetik ucapan indah di social media tetapi tidak punya waktu mengetik ucapan lewat pesan pribadi ?
Fisik saya malam itu terasa capek karena 3 malam tidur di alam bebas, tetapi hati saya ternyata jauh lebih capek (dan tidak ada obatnya) ketika harus menghadapi permasalahan yang ini lagi ini lagi.
Balasan saya untuk kiriman kamu sekali lagi berbentuk harapan agar kamu segera menghubungi saya untuk meminta maaf.
Tetapi sampai bulan berganti, kamu tidak pernah merasa bersalah.

Saya sangat lelah ketika saya harus menyadari kalau saya benar – benar sudah tidak dibutuhkan.
Selama 7 bulan saya selalu mencari sudut pandang lain selama berhubungan jarak jauh dengan kamu.
Bagaimana agar kita tetap berkomunikasi, itu lah satu - satunya keinginan sederhana saya.

Saya bisa saja setelah kesibukan saya berakhir, saya menghubungi kamu, trus marah – marah, trus kamu minta maaf, trus saya maafin, trus hari ini kita masih bersama.
Saya bisa saja malam ketika hari lahir saya kemarin saya mengirim pesan panjang atas kekecewaan saya.
Saya bisa saja pagi setelah kamu berkirim pesan saya membalas ‘telpon saya sekarang’ dan urusan kita segera selesai.
Tetapi apa segampang itu menerjemahkan sikap kamu yang tidak menyempatkan waktu untuk saya barang semenit pun untuk berkirim pesan ‘selamat ulang tahun ?’

Kamu tidak pernah bilang kamu tidak membutuhkan saya lagi.
Kamu tidak pernah bilang kamu tidak menginginkan saya lagi.
Kamu tidak pernah bilang seharusnya dari dulu kita sudah selesai.
Tidak pernah.

Kamu selalu bertanya hal – hal yang sudah pasti tidak bisa saya jawab.
Kamu selalu bertanya hal – hal yang tidak memerlukan jawaban.
Kamu selalu bersikap untuk tidak pernah mengakhiri tetapi sebenarnya ingin segera berakhir.

Dari terakhir kita bertemu, kita sudah pernah berakhir – mulai – berakhir lagi – mulai lagi.
Malam ini kalau saya memutuskan berkirim pesan, saya yakin seratus persen pasti kamu balas.
Saya bilang saya ingin bicara sesuatu, saya yakin pasti kamu menghubungi saya.
Tetapi setelah itu ?
Saya sudah bisa menebak semuanya.
Kamu yang akan seperti itu lagi, lagi dan lagi.
Tanpa keputusan.

Saya menerjemahkan sendiri maksud kamu tidak memberi ucapan lewat pesan pribadi sebagai ungkapan bahwa kamu tidak lagi membutuhkan dan menginginkan saya.
Saya mengartikan kamu ingin menyudahi tetapi tidak ingin meninggalkan kenangan bahwa kamu yang minta saya pergi.

Apa yang lebih menyakitkan selain merasa tidak dibutuhkan ?

Saya sangat kacau atas perasaan ini sekarang.
Saya kangen, tetapi saya sesak.



0 comments:

Post a Comment

Footer

Lorem Ipsum

Welcome

Ketika tak bisa lagi bersuara, tak sanggup berperang mulut, lewat tulisan ku sampaikan semuanya.
Powered by Blogger.