Mimpi Sejuta Dolar Hal. 244

Rentan Down

Sulitkah pekerjaan ini?

Harus kujawab dengan tegas, ya, ini pekerjaan sulit. Tapi bukan pekerjaan yang mustahil untuk memberikan masa depan cerah. Bahkan sangat mungkin. Aku harus menceritakan ini untuk memperlihatkan pada mereka yang masih berjalan di tahap awal perjuangan, bahwa fase sulit itu selalu ada dan menghadang. Tapi dimasa - masa itulah kita diuji untuk mengerahkan segala kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri. Menguatkan mental, menguatkan energi fisik. Dan yang terutama, terus membangun tekad dan keyakinan. Sebab, tak bisa dipungkiri, di masa - masa awal yang sulit inilah banyak semangat menjadi tumbang.  

Merry Riana - Miliuner muda yang sukses di Prudential saat dia berusia 26 tahun

Saya Takut

Hari ini pertama kalinya saya ikut training AWS. Tema hari ini adalah 'Cara Sukses Menjual Asuransi'. Banyak ilmu yang didapat. Walaupun pelatihannya nggak sesuai ekspektasi saya tapi saya cukup puas karena setelah kelas bubar kami diberikan ilmu lagi melalui lembaran fotokopian.

Tapi hari ini saya takut. Saya takut, karena ada orang asing yang mengikuti saya sehabis pelatihan itu. Bukan, dia bukan orang2 perusahaan dimana saya bekerja. Tapi orang yang bener2 nggak saya kenal :'(

Saya sangat takut ketika keluar dari gedung itu. Sepanjang jalan saya kepikiran. Saya orangnya pemberani, tetapi saya juga khawatir kalau orang2 ini beneran ada maksud tertentu untuk saya. 

Sewaktu kami sama2 memberikan karcis parkir tadi, dia sempat saya tanya mengapa dia mengikuti saya sejak tadi, dia cengengesan. Ya Tuhan, semoga hanya hari ini saja saya diberi rasa takut seperti ini. Amin

janji posting semalam

Halooooo, maaf sudah lama tidak berbagi kisah. Siang ini saya menepati janji saya dipostingan kemarin kalau saya akan menceritakan kegiatan saya sekarang.

Yaps, saya sudah terjun ke dunia kerja. Kalau dua bulan yang lalu postingan saya tentang persiapan saya menghadapi ujian akhir, di bulan ini saya sudah menjadi tenaga kerja. He he he

Iya, saya lulus pada tanggal 31 Agustus kemarin dan diwisuda tepat tanggal 24 Oktober kemarin juga. Rasa bangga, puas, haru, serta khawatir menyelimuti pikiran saya pada saat itu. Bangga karena saya anak pertama yang menjadi sarjana dikeluarga saya, dan khawatir karena setelah itu saya harus mencari penghasilan sendiri. Beruntungnya, saya sudah mempunyai rencana mau jadi apa saya setelah wisuda. Apa yang harus saya lakukan dan bagaimana persiapannnya. Alhamdulillah keluarga sangat mendukung 100 % pilihan hidup saya.

Memilih kerja, sama artinya dengan menentukan masa depan. Berbahagialah mereka yang sudah sukses sewaktu masih menjadi mahasiswa. Dan berbahagia juga lah mereka yang mencintai pekerjaannya sekarang.

Saya sekarang bekerja di perusahaan asuransi asal Inggris. Yang mana perusahaan tersebut bergerak di bidang asuransi jiwa  dan merupakan perusahaan asuransi jiwa terbaik di negara kita ini. Karir saya diperusahaan itu masih agent yang baru bergerak. Kenapa saya katakan baru bergerak ? Karena sebenarnya saya sudah berlisensi sejak tujuh bulan yang lalu tetapi baru minggu kemarin melakukan prospek. He he he

Banyak sekali pengalaman yang saya dapat selama prospek.

Jadi gini, sewaktu saya masih dirumah, bapak saya berulang kali menyuruh saya untuk latihan ngomong dan ngomong. Tetapi memang saya anaknya yang sok pintar atau kemelelet, saya selalu jawab ‘nanti bisa2 disitu nya itu pak’, belajar SQS (Sales Quotation System) aja satu hari sebelum saya pulang ke Medan, dan dampaknya apa saudara saudaraaaaaaa ketika saya terjun ke lapangan, saya gak tahu harus ngomong apa, hiks, hiks, hiks.

Hari senin lalu saya mulai bekerja sehabis dzuhur. Target market saya itu adalah daerah penelitian saya sewaktu skripsi kemarin, kan hapal mati tuh lokasinya (maklum, skripsinya tentang RTH :p ) jadi saya tahu dimana rumah2 orang kaya, kelurahan mana yang harus saya kunjungi. Nah, begitu sudah sampai dilokasi barulah saya menyadari bahwasannya saya tidak seberani yang saya pikirkan. Saya berpikir, ‘pekerjaan yang kupilih, ternyata gak semudah yang ku bayangkan ya’.

Wajar lah ya gak semudah yang dibayangkan, lah wong kemarin2 itu aku mikirin komisinyaaaaaaa aja, tanpa menghiraukan aku menguasai produk yang ku jual  apa enggak. Hu hu

Hari pertama saya gagal prospek. Saya curhat ke leader saya, ke bapak saya juga (ayah saya juga agent) bahwasannya saya tidak berani membelokkan sepeda motor saya ke rumah2 si calon nasabah, mereka langsung memberikan kata2 motivasi melalui sms, ku share smsnya ya buat penyemangat agent baru diluar sana juga, hehe

Sms Leader ‘Biasa itu ndah, tahap awal kita suka khawatir ditolak dan lain sebagainya. So, indah harus menguatkan pikiran positiv, bahwa indah datang kerumah seseorang untuk memberi kebaikan pada mereka, baca bismillah dan ketuk pintu rumahnya. Jangan pikir kegagalan, yang penting lakukan pekerjaan, insyaallah ada jalan rezeki’.

Sms bapak ‘Ya memang gitu, ngobatinnya paksakan belok, tiga kali aja udah biasa nanti, coba aja, niatkan kita memberi bukan meminta, pasti sukses, amin’.

Air mata saya tanpa disadari mengalir terus dan terus. Pipi saya basah membayangkan betapa beratnya pekerjaan saya ini. Saya tahu, yang meng-sms saya adalah orang yang dulunya pernah mengalami apa yang sedang saya rasakan pada waktu itu. Kalau mereka pernah ditolak, dan bisa berhasil closing, berarti saya juga bisa melewati masa2 awal ini.

Berlanjut dihari kedua. Fyi aja nih ya, seorang agen asuransi itu memiliki kebiasaan berfikir ketika sebelum tidur dan sesudah bangun tidur. Berfikir apa itu ?? Yaitu berfikir besok/hari ini mau kemanaaaaa ????? seriusa saya, yang profesinya agen pasti mengaminkan kalimat saya.

Jadi hari kedua saya putuskan untuk pergi ke percut. Berangkat dari rumah jam 10 pagi langsung menuju percut. Sesampainya dilapangan apa yang terjadiiiiii ??????? sama seperti masalah di hari pertama, yaitu belum berani belok -_________________-

Saya prospeknya menggunakan sepeda motor dan memakai metode kanvasing (terjun langsung ke orang yang tidak kita kenal). Hasilnya adalah, lebih tinggi tingkat kita jalan2nya dibanding presentasinya. Jadi sesudah sampai saya di desa percut saya luruuuuuuusssss saja dan sudah agak jauh baru saya berputar arah. Saya berfikir, mau gak mau harus berhenti didepan rumah orang. Iyah, berhenti.

Calon nasabah yang pertama sekali saya datangi yaitu Ibu Tanjung berusia 51 tahun mempunyai anak 3, dan janda. Sejujurnya ini adalah nasabah yang sangat2 potensial. Beliau berdagang bantal guling, kasur dan perlengkapan tidur lainnya, anak pertama kuliah di perguruan tinggi swasta, yg kedua kelas tiga sma, dan yang ketiga masih smp. Kemarin itu saya datang, perkenalan dan langsung mengutarakan maksud dan tujuan saya (sebenernya ini gak boleh, harus pendekatan dulu -__-), beliau tertarik tetapi minta persetujuan dulu sama anak2nya.

Calon nasabah yang kedua ibu2 berumur 50an juga dan berdagang, ketika saya bilang saya dari mana beliau langsung bilang ‘maaf ya dek, bukannya apa, anak saya sudah menjadi nasabah diperusahaan adek, istrinya malah jadi agen juga’. Lalu saya pamit.

Total saya memprospek calon nasabah pada hari kedua sebanyak 14 orang dari target 20 orang sehari. Rata2 dari mereka sudah menjadi nasabah di perusahaan tempat saya bekerja. Dan selebihnya penolakan halus seperti ‘pengen sih, tapi belum punya duit, kreditan masih banyak’ -_____-

Ketika saya laporan sama bapak saya, beliau bilang ‘Besok wajib 23 orang yang diprospek agar berjalan sesuai target, yakin jalan menuju sukses sudah terbuka, jangan lupa 5 waktu dan dhuha, niatkan kita membantu bukan memanfaatkan orang. Salam sukses’ dalam hati saya sewaktu membaca pesan ini ‘jago beneeeeeeeerrrrrr bapakku berteori, prakteknya susyaaaah pakkkkkkkkk :( ‘

Di hari ketiga saya mengambil daerah yang bertolak belakang. Kalau dihari kedua saya ke percut, di hari ketiga ini saya ke batang kuis.

Awalnya mau ke Tembung, cuma gak tahu mau ke perumahan mana, jadilah saya lurus saja dan berbelok ke kanan sesuai kata hati. Lalu saya terusssss saja, masih sama, nggak berani belok. Tetapi batin saya menolak terus, belok dong nda, belok dong, sampai akhirnya saya memasuki halaman rumah yang sama sekali nggak saya kenal. Saya datang dengan ramah tamah, layaknya seorang sales, kemudian dipersilahkan masuk dengan si tuan rumah. Untungnya tuan rumah yang nggak saya kenal ini bersuku jawa, sama dengan saya, jadi merasa bertamu dirumah saudara jauh. Saat itu mereka lagi sibuk mempersiapkan pernikahan yang akan diselenggarakan minggu ini, yang menerima saya kemarin adalah bang Agusman. Tanya sana sini ternyata dia bekerja di MMTC sebagai satpam. Dalam hati saya ‘wah, bagus nih ada kenalan satpam mmtc, dari kemaren saya juga mau memprospek mereka, cuma gak berani’. Setelah saya meminum teh yang diberikan oleh adeknya, kemudian dia menanggapi hasil presentasi saya bahwasannya dia saat ini belum kepikiran buat berasuransi. Yah, penolakan halus juga lah, cuma saya juga belum kepikiran saya akan melakukan case, saya berfikir, dengan pengalaman saya bekerja selama dua hari saja, saya sudah berani belok ke depan rumah/toko orang yang tidak dikenal itu sudah merupakan prestasi tersendiri bagi saya. Hari ketiga ini saya melakukan prospek sebanyak 5 orang. Menurun dari hari pertama. Iya, alasannya, karena saya capek dan saya berfikirnya kerja saya gak efektif. Sepertinya saya harus street prospecting, dan harus banyak belajar lagi tentang produk dan cara menjual asuransi. Jadi mulai hari ke empat sampai hari ini saya belum menambah daftar jumlah calon prospek saya. Hari Jumat kemaren rencana saya mau memprospek teman satu gank saya, kebetulan pada saat itu kami semuanya ngumpul. Sudah saya print kan juga masing2 proposal atas nama mereka. Cuma, hari itu suasananya nggak sesuai ekspektasi saya. Jadi saya batalkan.

Kemudian hari sabtunya saya ikut training ATM (Advance Training Moduls) di kantor cabang pru MD5. Trainernya menjelaskan tentang produk2 yang akan kami jual. Lalu pagi tadi jam 10.00 wib saya berangkat lagi ke MD5 untuk mengikuti M3 (Monday Morning Meetings). Speakernya Pak Johan, karir beliau sudah SUM (Senior Unit Manager) saya banyak dapat ilmu dari beliau. Dan rencana kegiatan saya seminggu ini dari mulai besok yaitu ikut training PRU AWS di Selecta.

Yauda deh, sampai sekian dulu sharing saya tentang pekerjaan baru saya ini. Sangat panjang ya, hehehe, mulai besok saya akan displin nge-blog lah, khususnya tentang progress pekerjaan saya, biar nambah semangat.

salam sukses.

@ikalaraii



Mengapa memilih bekerja sebagai agen asuransi ?

Hidup itu penuh dengan kejutan. Hari ini kita bertemu dengan siapa itu sudah rencana Tuhan. Hari ini kita sedih, senang, sudah diatur oleh-Nya. Sebagai manusia kita harus selalu berfikir positiv dan bersyukur.

Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan kehidupan yang begitu berarti. Dimulai dimana saya ditempatkan, dengan siapa saya akan bertemu, dan kapan saya akan merasakan sedih dan senang.

Banyak pengalaman2 yang saya rasakan yang kesemuanya itu adalah rencana Dia yang sangat mutlak. Tidak ada yang namanya kebetulan.

Dulu saya bersekolah di SMK jurusan Penjualan. Tetapi PKL nya di Kantor Pajak. Dulu saya sekolah di SMK jurusan penjualan tetapi kuliah di jurusan Pendidikan Geografi. Nah sekarang, saya sudah lulus dari Geografi saya malah memilih menjadi seorang agen asuransi. Siklus hidup saya selalu menyimpang yah? he he he

Saya sudah lulus, tetapi saya malah memilih menjadi seorang agen. Kenapa ?

Bukannya saya tidak menghargai ijazah sarjana dari Unimed. Tetapi untuk keadaan sekarang ini saya memang belum kepikiran untuk bekerja sebagai ‘pegawai’. Saya terinspirasi dari dua adik saya yang tahun depan berturut2 akan masuk ke perguruan tinggi. Saya tidak mau mereka hidup pas2-an seperti saya saat menjadi mahasiswa, saya tahu sakitnya bagaimana ketika tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Orangtua saya masih mampu memenuhi kebutuhan kami, tapi tidak untuk keinginan kami. Mereka masih memikirkan masalah financial yang seharusnya tidak mengorbankan kebahagiaan anak2nya. Dan ironisnya, si anak dipaksa harus mengerti. Saya tidak mau adik saya merasakan hal itu. Maka dari itu saya berfikir untuk bekerja yang perhitungan penghasilannya tergantung usaha kita. Bukan di gaji. Dan alhamdulillah, saya bertemu Prudential sebelum saya lulus kuliah. Jadi saya tidak perlu repot2 mengantar lamaran kesana kemari, interview di perusahaaan ini atau itu. Begitu lulus, saya sudah tahu saya akan kemana.

Banyak teman2 yang menganggap saya mengambil tindakan diluar kewajaran. Banyak yang berkata sinis ‘kau kok lari ke asuransi pulak?’, banyak malah yg bilang ngapain capek2 kuliah kalo akhirnya cuma jd sales’. Yah, menurutku wajar sih mereka bilang begitu. Tidak ada yang salah dengan kata2 mereka. Itu hak mereka berkomentar. Tetapi kita sebagai manusia mempunyai cita2 sendiri, mimpi2 sendiri, kita juga punya hak buat melukis masa depan kita sendiri. Kata2 negativ yang keluar dari mulut mereka di dengerin aja deh, jangan dijadiin beban, toh kita bernafas juga gak dari hidung mereka.

Sebenarnya dimanapun kita bekerja itu sama saja. Semua tergantung niat, serius, disiplin, dan tanggung jawab kita kepada pekerjaan tersebut. Mau bekerja dimana pun pasti memerlukan keempat point itu. Saya disini bukan membanggakan profesi saya dan menjelekkan pekerjaan lain. Tulisan ini dibuat cuma untuk berbagi bagaimana seorang anak perempuan berusia 21 tahun yang sedang menjalankan rencana yang sudah disusun, memilih sendiri jalan hidupnya, dan menentukan sendiri masa depannya. Tidak terprovokasi oleh lingkungan sekitar.

Saya juga masih agent baru, belum ada case. Tapi dengan ter-publishnya tulisan ini saya harus termotivasi supaya segera mendapatkan case. Kenapa ? Supaya saya bisa membuktikan kepada teman2 bahwa saya tidak salah pilih.

Penyemangat hidup saya pernah bilang ‘Nggak ada yang gampang pada saat mengawali, tapi itu yang harus kita taklukkan. Pada waktunya, segala kegagalan atau keberhasilan hidup kita, kita sendiri yang akan menanggungnya, bukan orang lain, atau dia teman yang sangat akrab.’

Salam sukses,

@ikalaraii


.

"Setiap manusia memiliki mimpi. Ada yang mengejar dan mewujudkannya. Ada yang mundur dan membuangnya. Ada yang diam dan menyimpannya sepanjang sisa hidupnya". - Okky Sepatumerah

Udah malem, saya pengin cerita kegiatan saya sekarang. Tapi mata udah gak bisa diajak kompromi. Saya nge-share kutipan diatas karena saya sedang membuktikan apakah saya termasuk tipe pertama yang di bilang mbak Okky atau enggak.

Untuk sementara waktu, saya kasih gambar ini aja ya,


selamat malam :)

Footer

Lorem Ipsum

Welcome

Ketika tak bisa lagi bersuara, tak sanggup berperang mulut, lewat tulisan ku sampaikan semuanya.
Powered by Blogger.