Menangislah Sendiri

"Jika demikian dalamnya kau mencintainya, maka menangislah sendiri. Jangan membuatnya menangis karena kau." (dari legenda ular putih)

*salah-satu poin dari nasehat ini adalah, banyak sekali orang2 yg mengaku mencintai seseorang, tapi dia justeru merusak, menjerumuskannya. Jika kita memang mencintai seseorang, maka kita akan mati2an melakukan hal yang benar, sesuai dgn kaidah dan norma2 yang berlaku.

Tere Liye

Esensi Sukses Sesungguhnya By @JayaYEA

Saat kamu diatas, mereka menyanjungmu. Saat kamu dibawah, mereka meninggalkanmu. >> Makanya, janganlah sukses karena mereka..

"Awas, aku buktikan kalo aku BISA..!" >> Lha ngapain buktikan kpd org oportunis, lebih baik buktikan kepada Tuhanmu & yg mencintaimu..

Janganlah SUKSESMU dibentuk oleh OPINI 'orang luar'. Bahagiakanlah 'orang dalam' dan orang luar tak perlu tahu urusanmu..

Kalo dia BISA, aku juga harus BISA >> ini mau buktikan ke siapa lagi? Jangan2 malah mengorbankan yg kaucinta, demi pembuktian!

Kalo kita tahu apa ESENSI SUKSES seungguhnya, tak akan kita menggunakan PAKAIAN GENGSI, apapun wujudnya..

Apapun penilaian 'orang luar' terhadapmu, biarkan saja, selama kau SADAR bahwa tindakanmu BENAR, bukan PEMBENARAN..

Orang PeDe itu menguasai apa yang dipakai, bukan dikuasai apa yang dipakainya.. #think

Jangan habiskan energimu untuk 'balas dendam' pembuktian. Karena mereka tak pantas mendapatkan hiburan pembuktianmu..

Biarkan mereka tetap sinis dibelakangmu, sembari kau & yang kaucinta menikmati kejayaanmu, tanpa diketahui orang lain.. #sejati

Tampak Sukses, beda dengan Memang Sukses.. #think

Tentang Satu Hari itu

 
 Aku percaya, sebuah foto bisa menerjemahkan banyak hal. Dan aku percaya, selain tulisan, foto adalah kenangan yang paling abadi.

'Dek, dek, ada air terjun' katanya menggodaku.
Aku tetap pada posisi tidak peduli, air terjun Lembah Anai berada di sisi kanan mobil, sedang kepalaku sedari Bukittinggi hanya menghadap ke dua arah, ke depan, dan sesekali ke sisi kanan mobil.

Kakak sepupu bertanya, kenapa aku diam saja dari tadi, aku bergeming tak menjawab.
'Kebiasaan disayang - sayang ini, Wit' jawab seseorang yang berada di samping kananku dengan santai.

Jalanan Bukittinggi ke Padang masih gelap, lampu mobil juga dimatikan. Sebenarnya tidur adalah pilihan terbaik saat itu, mengingat malamnya aku tidur - tidur ayam, mata ini ngantuk sekali.

'Sudah kholas ngajinya ?' tanyanya
'Belum' jawabku singkat
'Selesaikan lah sekarang'
dalam hati ini menjawab 'Menurut lo ?'

Kalimat kebiasaan disayang - sayang menempel di pikiranku. Benar katanya, sekalipun aku tak pernah dimarahi, shubuh itu adalah marah pertama yang ku terima darinya, langsung, bukan dari jarak jauh. Padahal malam sebelum pagi tiba, kami sempat berkencan, menghabiskan waktu bersama. Dia memelukku dengan sangat erat, 'Aku lagi mikir besok kamu udah nggak ada', jawabnya ketika ku tanya apa yang sedang dipikirkannya. Tapi pagi ini malah dimarahi, sial.

Sulit menghadapi momen - momen perpisahan seperti ini. Diantara kami, aku yang paling drama. Pagi itu sebenarnya aku yang salah, karena tidak segera turun kebawah untuk chek-out dari hotel. Tapi sepanjang perjalanan malah aku yang diam, diam bukan karena marah, hanya tidak biasa dimarahi saja.

Perlahan - lahan langit mulai menampakkan warnanya, tak lagi hitam. Pemandangan yang tersaji diluar mobil pun semakin membuatku gelisah, sayang sekali pikirku jika pemandangan ini tidak diabadikan. Aku gak mau menyesal kemudian hari hanya karena gengsi untuk menyudahi drama ini, 'pinjem hape dong' pintaku kepadanya, hape dia kameranya cukup bagus dibanding kamera hapeku. Tanpa rasa malu aku langsung mengambilnya dan mengabadikan momen ini, 'cantik sekali' batinku dalam hati 'ini adalah moment matahari terbit yang paling indah, aku menyaksikannya disamping orang yang ku cinta'.

Selepas dari itu, aku kembali seperti biasanya, bermanja - manja. Aku gak peduli dia berfikir aku aneh atau apa, yang ku tahu, dia suka kalau aku sudah mulai menjailinya lagi.

Kami sudah tiba di Padang. Kotanya biasa saja, angkotnya yang menarik. Pagi ini kami memilih bermain dipantai, sementara dia bekerja. 'Jam 11 ku jemput' pesannya saat kami turun dari mobil.

Ini hari terakhir kami liburan, sore nanti kami sudah harus pulang. Masih banyak yang belum dikunjungi, tapi tidak sedikit yang sudah kami datangi. Rasanya, sebuah pelukan saja tidak cukup untuk membalas waktu yang sudah diberikannya untuk kami. Dia benar - benar membuktikan cintanya.

'Ulang tahunku nanti, aku yang ke kotamu atau kamu yang kemari?' tanya dia usai menyantap makan siang disebuah pondok nan jauh dipedalaman
'Aku yang kemari (lagi)' jawabku

Seusai mengabadikan foto dengan latar langit biru dan menguningnya padi disawah, kami berlalu dari tempat makan para pejabat itu, menuju Bukittinggi.

Apa rasanya ketika hendak berpisah tapi tak bisa saling memeluk ?

Waktu kami habis diperjalanan, begitu sampai Bukit tidak bisa lagi bersantai - santai, harus segera ke terminal. Hujan turun dengan sangat deras, 'semestapun tak mengijinkanku untuk pulang' kataku saat kami sedang terkena macet di sebuah pasar.

Menghabiskan detik - detik dengan duduk dibangku yang tersedia untuk calon penumpang membuat dada ini bergemuruh, kapan kami akan bertemu lagi ?
Pertanyaan yang terlalu klise sebenarnya untuk dua insan yang hendak berpisah, tapi berbicara dan berpura - pura baik - baik saja lebih membuang waktu, aku ingin menikmati perpisahan dengan caraku sendiri. 'Sesedih - sedihnya orang yang akan pergi, lebih sedih lagi orang yang ditinggalkan' bisiknya ditelingaku. Kalau tidak ingat sedang berada di negeri beradat, sudah kupeluk dia dengan sangat erat.

17.00 wib
Supir sudah naik ke bus, saatnya berangkat. Kami pun berjalan menaiki bus, dia mengantarkanku sampai dikursi yang akan ku duduki selama 14 jam perjalanan, mengucapkan kalimat hati - hati kepada kami berdua, kemudian mencium keningku dengan hangat, 'hati - hati ya, sayang', begitu katanya sambil menatap mataku, dia pun berlalu menuju pintu untuk segera turun dari bus. Aku memperhatikannya lewat kaca jendela dari tempat dudukku, laki - laki yang sedang berjalan cepat itu, sudah membuktikan rasa cintanya, sudah memberikan separuh waktu dan jiwanya untukku. Aku langsung mengambil handphoneku dari kantong celana jins ku, lalu menulis waktu di note hapeku '17.05 wib, Terminal Aur, Bukittinggi'. 

Bus sudah bergerak meninggalkan terminal itu, meninggalkan kenangan yang terukir selama beberapa hari, jauh, semakin jauh. Dia sudah tidak ada lagi disampingku, aku meninggalkan kotanya, dan entah kapan kami kembali berjumpa. Berbekal topi lebar yang ku beli sewaktu mengunjungi Wisata Panorama, ku tutupi mukaku, air mata mulai mengalir jatuh, aku masih di kota itu, tapi sudah rindu berat dengan laki - lakiku.

Bukittinggi, 28 Mei 2014 

*) Tulisan ini dibuat sebagai ucapan selamat ulang tahunku untukmu. Semoga kau memaafkan janji yang selalu tak bisa ku tepati.

(mari) merubah kebiasaan

Aku punya semacam trauma, terhadap kata-kata yang kukeluarkan sendiri. Semakin sering aku berkata, semakin nampak jelas di mataku kebodohanku. Sering, aku berharap tak pernah mengatakan ini dan itu. Jika itu tweet, status, atau blogpost, sesal bisa ditindaklanjuti dengan menghapusnya. Tapi yang telah terucap lisan takkan dapat ditarik kembali. Maka yang dapat kulakukan adalah memperhatikan apa yang akan kukeluarkan dari mulutku dan, mungkin yang lebih penting, menjaga apa yang masuk ke dalam kepalaku.

copas dari sini

Renungan

Pilihan

"Hidup adalah kumpulan pilihan"
Slogan klasik yang semakin banyak diucapkan, diyakini. Saya hanya cemas ia kehilangan maknanya.
Jika kita memilih A karena “begitulah caranya hidup”, sementara “begitulah caranya hidup” mengacu pada apa yang orang banyak jalani dan selain itu adalah hidup yang tidak bermasa depan, apakah mengambil A adalah sebuah aktivitas memilih?

Jika kita memilih Z karena “itulah kesuksesan”, sementara “itulah kesuksesan” mengacu pada apa yang orang banyak kejar dan selain itu adalah kegagalan, apakah mengabil Z adalah sebuah aktivitas memilih?
Apakah setiap keputusan yang kita ambil, yang mengacu pada paksaan definisi dari eksternal, bisa dianggap sebagai pilihan?

Saya hanya bertanya-tanya.

Tetapi, bagi saya, mereka yang memberikan kekuasaan sepenuhnya pada dirinya sendiri; mengosongkan kekuasaan pada definisi eksternal; dengan kesadaran yang penuh dan hati yang terbimbing; tanpa kecemasan terhadap kehilangan sesuatu; adalah orang-orang yang sangat pemberani. Bagi saya, merekalah para pembuat pilihan.

copypaste dari sini

Footer

Lorem Ipsum

Welcome

Ketika tak bisa lagi bersuara, tak sanggup berperang mulut, lewat tulisan ku sampaikan semuanya.
Powered by Blogger.