Maret

Maret adalah bulan yang sering banget buat aku mikir.
Iya, mikir ulang hidupku mau dibawa kemana.
Aku kan nggak punya target apa - apa nih tahun ini, jadi berasa flat aja gitu.
Makan, tidur, bangun, ngajar, pramuka, udah gitu doang.
Jadi sebelum tidur itu aku sebenernya mikir, walau cuma mentok dimikir aja sih, nggak tau abis itu mau ngapain.

Bulan - bulan ini juga aku sering ngikutin ig storiesnya @ikanatassa, @jennyjusuf, @ladyzwolf , ketiga perempuan itu adalah perempuan keren menurutku, belum menikah, pekerjaan bagus, dan punya sudut pandang yang aku banget, hehe. Jadi aku terdistraksi dengan titik - titik di instatories mereka dan membuatku kembali kepada aku yang dulu.

Well, jangan ngejudge aku karena aku belum nemu prioritas hidupku apa ya. Semua orang punya turning point hidupnya masing - masing kok, usiaku memang sudah 25 tapi aku tidak menjadikan itu sebagai beban untuk aku harus menjalani hidup seperti inginnya orang. Sudahlah nggak usah dibahas terlalu jauh, nanti kita berdebat trus berantem pulak.

Karena aku merasa aku punya 'role model' dalam misi menjalani hidup, aku tidak peduli lagi dengan 'perjodohan semu' yang pernah datang kepadaku. 

Baik aku ceritakan, awal Januari ada seorang Bapak menghubungiku, beliau cerita perjalanannya 'menemukanku'. Anak pertamanya sedang bekerja di desa ku, tepatnya di perkebunan xxx. Inti dari perkenalan, beliau ingin menjodohkan aku dengan anaknya. Karena menurut beliau cocok, aku seorang guru, anaknya seorang asisstant.

Karena aku pernah berdoa memiliki seorang suami dengan profesi seperti itu, akupun merasa ini adalah jawaban Tuhan untukku. Ibarat hape, semua spesifikasi yang aku inginkan untuk menjadi seorang jodohku itu ada di diri anak dari bapak itu. Okey, ketemu, pikirku.

Tetapi hari berganti hari, dan bulan sudah berganti nama dua kali anaknya tak kunjung menghubungiku. Aku pernah kesal karena bosan yang menghubungi adalah bapaknya terus, aku memberanikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu. Dibales sih, tapi balasannya singkat, oh, bukan singkat, dia hanya menjawab salam dariku saja. Melihat balasannya aku hanya bisa tersenyum kecut dan mencoba untuk lebih bersabar. Aku tahu alasaan dia seperti itu, makanya ku bilang aku bersabar.

Aku melupakan imajinasi perkenalan absurd dari wa, pesannya kini ada diurutan paling bawah dalam daftar chat ku. Sengaja tidak ku hapus, ku simpan sebagai bukti saja, aku pernah diabaikan.

Lama semakin lama, bapaknya membuat aku jengkel. Terus mengirim pesan ke aku, bertanya hal - hal yang sebenarnya aku malas menjawabnya. Kejengkelanku mencapai puncak saat bapak tersebut menyuruh aku untuk menghapus beberapa tulisanku di blog ini dengan kalimat pertama yang membuat aku marah. Sampai hari ini tulisan yang dimaksud itu tidak pernah aku hapus, dan tidak akan. Menurutku itu tulisan yang biasa saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekalipun calon suamiku membacanya kelak. Semua tulisan di blog ini adalah kenang - kenangan bagiku, rekam jejakku, dari jaman kuliah sampai hari ini. Kalau anaknya sekiranya bisa berubah pikiran karena membaca tulisan itu, oh, bagus lah, berarti bukan calon yang tepat.

Akhirnya aku meminta maaf ke beliau untuk melupakan rencana perjodohan ini. Aku benar - benar ilfeel, benar - benar kesal, benar - benar males dan marah. Terlebih saat aku mengetahui kalau beliau juga mengepoin teman baikku. Aaaarrghhhhhhhhhhh,

Maaf. Aku tahu pasti bapak itu membaca postingan ini.

Balik ke cerita di atas, setelah aku mengikuti rangkaian IG Stories perempuan - perempuan favoritku itu, aku memutuskan untuk kembali kepada prinsipku dulu. Sendiri dan tidak mau rempong dengan urusan lelaki. Aku nggak tahu aku akan menikah atau tidak, yang pasti untuk saat ini aku benar - benar tidak kepikiran. Bagiku menikah itu sama dengan MENYERAHKAN sepenuhnya hidup kita ke dunia. Kalau sudah nikah itu, kayak, kita harus nurut gitu sama keadaan, nggak bisa membangkang lagi. Persentasi kebahagiaan setelah menikah diotakku sangat kecil, entah karena aku belum puas dengan diriku sendiri, entah karena aku melihat kondisi pernikahan disekelilingku ya. Kalau kau suruh lihat di instagram, wagelaseh, kita mah bisa nyadar diri ngukur sendiri ya gimana kehidupan kita pasca menikah dengan kondisi kita saat ini. Instagram mah fatamorgana, buka aplikasi itu hanya buat happy - happy saja dan mencari motivasi karena melihat orang - orang kok sepertinya kaya semua. Jadiin motivasi buat naikin value diri sendiri saja, bukan buat berkeluarga. Bisa stress ntar you, kehidupan you nggak sama dengan kehidupan Rachel Vennya, mama muda yang duitnya buanyaaaaakkkk, stress nanti you sibuk ngebandingin outfit anak you sama outfit anak dia, atau you stress nggak bisa sering - sering instastory-an lagi gara - gara nggak punya paket demi beli susu sibuk ngurus anak, wkwk

Terima kasih untuk Kak Ika Natassa, Kak Jenny Jusuf, dan Kak Twelvi Febrina. 
Kalian perempuan - perempuan hebat, aku suka sama karakter kalian. 
Terima kasih sudah meyakinkanku untuk kembali ke prinsipku dulu.
Selamat tinggal perjodohan.


*seharusnya aku nulis review bulan ini ngapain aja, kayak review bulan - bulan kemarin, tapi rasanya review itu aku buatin video aja karena lebih cocok 'ngomong' daripada ditulisin. Jadinya tulisan bulan ini hanya ini deh, makasih udah baca...

4 comments:

meinita triwijayanti said...

Menikah itu bukan tujuan lho. Bahagia jg bukan sesuatu yg diukur. Karena yang hidup akan mati. Tapi yang gabisa mati itu adalah inspirasi dan ide. Makanya mendingan kita tetep yakini jalur dan laju yg kita pilih tanpa ragu sedikitpun.

Indah Ikalaraii said...

Yapssss.....

Arief W.S said...

Jangan galau melulu Bu, nanti muridnya pada bingung jadinya :D Tetap semangat buat mengajar, seiring itu InysAllah pintu jodoh akan terbuka :)

Indah Ikalaraii said...

Amiiinnnnnn

Post a Comment

Footer

Lorem Ipsum

Welcome

Ketika tak bisa lagi bersuara, tak sanggup berperang mulut, lewat tulisan ku sampaikan semuanya.
Powered by Blogger.