Resensi Novel RINDU Tere Liye


Perjalanan Menemukan Jawaban

Menuliskan resensi dari Novel Rindu karya Darwis Tere Liye atau yang lebih nge-hits dengan nama Tere Liye ini gampang - gampang susah. Kisah yang dibalut sangat sederhana, tetapi melibatkan Sejarah Indonesia. Kisah yang dirangkai didalam Novel Rindu adalah kumpulan dari pertanyaan - pertanyaan anak manusia pada umumnya.  Permasalahan hidup yang dibahas di novel sering ditemui di kehidupan sehari - hari. Hebatnya, Tere Liye mengemas jawaban itu semua dalam sebuah cerita perjalanan panjang nan suci.

Kisah sederhana ini mengisahkan lima orang-dari ratusan orang dalam sebuah perjalanan suci di atas kapal pada tahun 1938. Lima orang ini, diam - diam memiliki pertanyaan besar dalam hidupnya. Perjalanan yang didasari dengan rasa rindu akan panggilan Tuhan, membuat beberapa anak manusia dipertemukan takdir dan mulai menemukan jawaban - jawaban dari setiap pertanyaan penting tersebut.

Diawali dari 'penumpang pertama' yaitu Bonda Upe, perempuan tionghoa berusia empat puluh tahun, baru belajar agama ketika berumur tigah puluh lima, memiliki pengalaman pahit terhadap Kota Batavia. Beliau juga menjadi guru mengaji anak - anak di kapal, berangkat haji berdua bersama suaminya. Bonda Upe seseorang yang menutup diri-yang membuat suaminya juga mau gak mau ikut menutup diri, mereka keluar kabin hanya saat sholat berjemaah saja.

Lalu  'penumpang  kedua' bernama Daeng Andipati, seorang laki - laki yang masih muda, kaya raya, pintar, dan baik hati, serta memiliki keluarga yang begitu sempurna (kelihatannya). Istri cantik, kedua anak perempuannya pintar dan lucu. Anna adalah tokoh yang paling mendominasi didalam cerita. Anak kedua dari Daeng Andipati yang perannya sungguh di beri porsi lebih oleh penulis-padahal dia bukan penumpang yang memiliki pertanyaan dalam perjalanan itu, masih berumur sembilan tahun, tapi bijaknya minta ampun. Tokoh Anna ini bila dikisahkan secara terpisah bukan tak mungkin dapat menjadi satu kisah tersendiri dalam sebuah buku lain. Sepertinya Tere Liye sedang merefleksikan dirinya ke dalam diri Anna, terbukti dari gaya dialognya kalau Anna itu Tere Liye banget. Penulis juga sengaja membuat pembaca geram, mana ada anak umur sembilan tahun sudah mengerti arti kudapan  (hal 260) dan sok membahas tentang jenis kepiting di seluruh dunia lagi (hal 158).

'Penumpang ketiga' adalah Pasangan sepuh Mbah Kakung Slamet dan Mbah Putri Slamet. Mereka pasangan kakek - nenek yang saling mencintai. Mereka adalah pasangan tua paling romantis yang pernah ada, yang membuat penumpang terinspirasi akan kisah cintanya. Tapi sebagaimana hak penulis dalam membuat cerita, mereka pun sama - sama 'dilepas' di tengah - tengah Samudera Hindia.

'Penumpang keempat' adalah seorang pemuda pendiam yang memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai juru kemudi Kapal Phinisi, lalu melamar kerja sebagai apa saja kepada Kapten Philips. Apapun akan ia kerjakan-tak digaji pun tak apa, asal ia bisa pergi sejauh - jauhnya dari kota kelahirannya, Makasar. Meninggalkan cinta sejatinya.

Penumpang yang terakhir adalah 'Penumpang kelima' seorang ulama Mahsyur dari Makassar bernama Ahmad Karaeng. Gurutta-begitu panggilan penduduk Makasar untuknya,  selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi tak pernah menemukan jawaban untuk pertanyaannya sendiri.

Karakteristik para tokoh penunjang dalam novel ini pun kisah - kisahnya tak kalah menarik. Semisal, Ruben si Boatswain, yang dengan bangganya menceritakan kisah cintanya yang indah didepan pemuda yang baru saja patah hatinya, 'Astaga, kenapa aku jadi bercerita banyak sekali. Orang pendiam seperti kau ini kadang berbahaya, Ambo' (Hal. 89). Kemudian tokoh Chef Lars, kepala koki yang kalau marah senang memakai kata - kata makian dengan perumpamaan wajan dan tumis buncis, "Beruntung Kepala Koki itu bekerja di dapur, jadi meski mulutnya tajam, perumpamaan yang ia pakai hanya sayur-mayur, kuali, wajan, dan sejenisnya. Celaka sekali kalau ia bekerja di kebun binatang, kosa-kata makiannya bisa mengerikan' (Hal.167). Adapula Kapten Philips, kapten kapal yang akan membawa penumpang menunaikan ibadah haji di Mekah. Pelaut tangguh asal Wales ini sangat bertanggung jawab terhadap para kelasi dan penumpangnya, 'Diatas kapal ini, entah dia bangsawan atau hamba sahaya, entah dia kaya raya  atau miskin, berkuasa atau tidak, nasibnya sama saja saat badai datang. Tidak ada pengecualian' (Hal. 99).  Lalu ada Sergeant Lucas, serdadu Hindia Belanda yang ditugaskan untuk menjaga Blitar Holland. Dia sangat membenci Ahmad Karaeng, yang katanya seorang inlandeer berbahaya. Tapi Lucas tak bisa berbuat apa - apa karena Ahmad Karaeng memiliki surat pengantar dari Jenderal Gubernur Hindia Belanda. Kemudian penulis menghadirkan Bapak Soerjaningrat dan Bapak Mangoenkusumo, mereka digambarkan sebagai sosok guru yang ideal, cerdas, dan paling mengerti cara mengajar yang disukai murid. Mungkin Tere Liye lewat novel ini berpesan kepada guru - guru yang ada di Indonesia melalui kedua sosok ini, jadilah guru yang langsung mempraktikkan ilmu, bukan guru dengan gaya ustad, berceramah. 'Jika guru - guru di sekolah kalian seperti Anda, besok lusa bangsa kalian akan menjadi bangsa yang besar dan kuat' (Hal. 348)

Kisah yang dituturkan dengan menggunakan gaya bahasa kekinian, membuat novel yang berlatar jaman penjajahan ini tidak kaku. Tidak pula ada seram - seramnya seperti yang tertulis dibuku pelajaran sekolah- walau dibeberapa bagian ada cuplikan peperangan (hal. 130). Walau alur ceritanya mundur, sang penulis tetap pandai mengemas dialog dan membawa pembaca ke rasa penasaran yang luar biasa. Pembaca sengaja dipermainkan emosinya agar tetap penasaran, dan terus bersabar menunggu pertanyaan - pertanyaan itu tiba. 

Babak - babak selanjutnya, walau banyak hal membosankan-aktivitas penumpang hanya sebatas kabin, masjid, dan kantin, tapi Tere Liye selalu berhasil membuat penasaran di akhir bab, sehingga sayang untuk tak melanjutkan membaca. Dalam novel ini, penulis tak hanya fokus tentang jawaban dari pertanyaan - pertanyaan maha penting itu, tetapi beliau juga mengingatkan pentingnya pendidikan. Walau lokasi cerita di atas kapal, ia tetap memasukkan unsur agama dan pendidikan.

Ilmu yang disinggung dalam novel ini selain Sejarah Indonesia dan tentang perkapalan (Hal. 442), juga ilmu tentang Geografi-menyangkut batu bara (Hal. 254), Biogeografi-Ikan Paus (Hal. 413), ikan terbang (447), migrasi burung facon (Hal. 496). Tere Liye juga berhasil mengungkap tabir arti dari Serambi Mekkah yang dilekatkan pada Provinsi Aceh. Tere Liye juga membagi ilmu menulisnya lewat novel ini (Hal. 196), beliau  juga menghadirkan masalah tentang Perompak Somalia (Hal. 520).

Hari demi hari, pelabuhan demi pelabuhan, para penumpang sudah saling mengenal dan berinteraksi satu sama lain. Takdir memberi jawaban atas pertanyaan besar mereka.

'Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan ? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. (Hal. 310)

Penggalan paragraf diatas adalah jawaban dari pertanyaan pertama yang muncul dari perempuan yang selama perjalanan lebih memilih menutup diri. Bonda Upe ternyata bekas seorang Cabo di Batavia. Melalui nasihat yang diberikan Gurutta kepada Bonda Upe merupakan cara penulis memberi pemahaman kepada pembaca, bahwasannya, seburuk apapun masa lalumu, jangan pernah larut didalamnya. Semakin kau hindari, semakin terus kau ingat dia. Terimalah dengan sebaik - baiknya penerimaan, simpan didalam hatimu dan teruslah memperbaiki diri. Jika sewaktu - waktu kita merasa diremehkan oleh orang lain atas masa lalu kita (nggak harus sama persis), tiru saja gaya Tere Liye dalam membela Bonda Upe ini 'Ia memang bekas seorang cabo. Lantas kenapa ? Masalah buat orang lain ? (Hal. 323)

Lokasi yang berada diatas kapal ini membuat pembacanya seolah bisa mengenali medan yang ada di sana. Letak kabinnya, goncangan ombaknya, dek nya, mushollanya, kantinnya, dan keriuhan kantinnya. Pembaca seolah - olah turut hadir disana. Dengan penggambaran suasana yang cukup jelas, Tere Liye berhasil membuat  pembaca seperti sedang menonton film. 'Nasib kadang bisa ditentukan oleh sesuatu yang tipis sekali, bahkan bisa setipis kertas yang terjatuh di kantin kapal' (Hal. 357)

'Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua ?? Aku sudah lelah dengan semua itu, Gurutta. Aku lelah dengan kebencian ini'. (Hal. 371)

'Berdamai lah nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan ! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati. (Hal.374)

Kedua paragraf diatas adalah pertanyaan kedua sekaligus jawabannya. Berisi tentang nasihat untuk pembaca, bahwasannya, pengendalian hati itu penting. Tidak ada gunanya membenci orang lain. Kita berhak berdamai atas kebahagiaan hati sendiri. Ini yang sangat disukai dari Tere Liye, selalu apik mengolah kata, memberi pesan sebatas memaafkan saja, harus dibalut dengan cerita - cerita yang penuh makna.

Di pertanyaan ketiga ini Tere Liye mengingatkan pembaca untuk melihat dari kaca mata lain tentang takdir kematian.

'Jika Kang Mas merasa berhak bertanya kenapa harus sekarang Mbah Putri meninggal, maka izinkan saya bertanya, kenapa tanggal 12 April 1878, Kang Mas harus berjumpa dengan seorang gadis cantik di pernikahan saudara. Kenapa pertemuan itu harus terjadi ? Kenapa di tempat itu padahal ada berjuta tempat lain ? Kenapa dengan Mbah Putri padahal ada berjuta pula gadis lain ?' (Hal. 471)

'Jangan memaksakan melihatnya dari kacamata kita. Terus bersikeras, bertanya, tidak terima. Lihatlah dari kacamata Mbah Putri yang genap menemani Kang Mas hingga Samudera Hindia. (Hal. 473)

Nasihat ketiga sangat akrab dikehidupan kita sehari - hari. Banyak diantara kita tidak terima jika salah satu orang tersayang kita harus 'pergi' terlebih dahulu. Dengan membaca kisah Mbah Kakung, semoga diantara kita bisa melihat takdir kematian, dari kaca mata 'mereka yang pergi duluan'.

Walau ini bukan novel cinta - cintaan, tapi rasanya tidak afdol bagi seorang Tere Liye untuk tak memasukkan masalah percintaan ke dalam Novel Rindu.

Kau masih muda. Perjalanan hidupmu boleh jadi jauh sekali, Nak. Jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh jadi benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Jangan rusak kapal kehidupan milik kau, Ambo, hingga dia tiba di dermaga terakhirnya. (Hal. 284)

'Lepaskanlah, Ambo. Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. (Hal. 492)

Jawaban dari pertanyaan ketiga ini adalah sindiran untuk kaum remaja yang sedang dilanda patah hati. Tere Liye memberikan pemahaman, sesungguhnya urusan cinta sejati itu tak pernah rumit, cinta sejati itu sesederhana 'jika ia tak kembali, maka itu bukan cinta sejatimu'.


Ya Rabbi, anak muda ini, telah memberikan jawaban padanya. Urusan ini, pertanyaan ini, ia tidak akan pernah bisa menjawabnya dengan kalimat lisan, dengan tulisan. (Hal. 533)

'Aku akan menulis pesan berantai itu, Nak. Aku akan ikut kau ke kantin melakukan serangan mendadak. Mari kita hadapi kemungkaran dengan pedang di tangan. Jika kematian menghampiri penumpang di kapal, maka semoga syahid menjadi jalan mereka. (Hal. 533)

Pertanyaan terakhir datang dari seorang ulama mahsyur-yang selalu menjawab keempat pertanyaan sebelumnya, tapi jawaban dari pertanyaannya sendiri justru didapat dari pemuda pendiam  yang bahkan baru belajar shalat. Pertanyaan terakhir tidak membutuhkan jawaban berupa pemahaman, melainkan perjuangan.

Membaca novel ini memberikan pemahaman baru tentang  hal - hal yang sering terjadi didalam hidup. Lima pertanyaan dalam suatu perjalanan panjang dibalut ilmu pengetahuan.

Penyajian sampul yang sangat sederhana, hanya dengan latar belakang huruf R warna biru, lalu bertuliskan Rindu serta nama penulisnya dengan kertas berwarna putih  serta ada bayang - bayang tulisan surat jaman dahulu sangat cukup membuat calon pembaca penasaran. Ditambah sinopsis yang sangat mendukung untuk berfikir kalau isi dari novel ini adalah tentang cinta - cintaan. Tidak ada profil penulis didalam bukunya, juga bab per bab tidak ditulis judul, hanya ditulis angka satu sampai lima puluh satu, kemudian sampailah pada Epilog.

Kelebihan novel ini adalah penulis menggunakan bahasa kekinian dengan gambaran cerita seperti sedang terjadi di masa kini. Pembaca dibuat terhanyut sampai lupa kalau ini kisah sebelum perang dunia kedua. Berbagai macam ilmu pengetahuan yang disampaikan didalam novel, membuat pembaca terkagum - kagum atas kepintaran penulisnya.

Kekurangan novel ini adalah terlalu berlebihan menggambarkan imajinasi seorang anak kecil berumur sembilan tahun. Dan terlalu berlebihan menggambarkan kisah cinta kakek-nenek yang membuat pembaca bertanya 'Apa benar ada kisah cinta seromantis itu di jaman itu ?'. Kemudian untuk tulisan masih ada beberapa typo disana - sini, penulisan huruf ganda, atau bahkan salah nulis tahun. Mungkin editornya terlalu lelah. Di cetakan pertama pada halaman 322 tertulis 12 Oktober 2013, bukannya ini kisah di masa penjajahan ya ? Tapi itu semua tak mengurangi inti dari cerita yang disampaikan.

Jika kalian merasa mempunyai pertanyaan yang membuat kalian gelisah seumur hidup kalian-masa lalu yang suram, membenci seseorang yang seharusnya kalian sayangi, tidak ikhlas melepas 'kepergian' orang yang dicinta, mempertanyakan apa itu cinta sejati, selalu menasehati orang lain tetapi diri sendiri membutuhkan nasihat,  maka novel RINDU ini bisa dijadikan referensi untuk mendapatkan jawabannya.

Judul Buku: Rindu
Penerbit: Republika
Penulis : Tere Liye
Editor: Andriyati
Jumlah Halaman: 544 halaman
Tahun Terbit: 2014
Cetakan Pertama: Oktober 2014

5 comments:

Anonymous said...

Kritis,,,tp sayangnya spoiler bgt

indah ikalarai said...

Iya Anon, ini resensi pertama, masih belajar. Makasih ya sudah mau membaca :)

Dhianika dh said...

Wah lumayan postingannya bisa buat salah satu sumber tugas saya buat teks ulasan. Terima kasih

indah ikalarai said...

Alhamdulillah bermanfaat, terima kasih juga ya :)

Asmahan Huwaida said...

Terimakasih, bisa menjadi salah satu sumber untuk tugas saya^^

Post a Comment

Footer

Lorem Ipsum

Welcome

Ketika tak bisa lagi bersuara, tak sanggup berperang mulut, lewat tulisan ku sampaikan semuanya.
Powered by Blogger.