Di Balik Jendela

Semua orang terlihat biasa.
Gue duduk di terminal bus sambil nengok ke kanan dan ke kiri kayak orang linglung. Hari ini gue akan pergi ke Melbourne dari Adelaide naek bus. Perjalanan ke sana kira – kira 10 jam dan gue udah menyiapkan pantat sebaik mungkin. Kenceng. Keras. Tidak gampang lelah. Pantat gue tidak pernah begitu fit. Bentuknya aj six-pack (emang perut doang yang bisa ?).

Sepuluh jam naek bis gak jadi masalah buat gue.
Jam di terminal menunjukkan pukul delapan malam.
Setengah jam lagi bus gue siap di naiki.
Gue coba untuk menahan rasa bosan di ruang tunggu dengan baca bukunya David Sedaris sambil ngeliatin orang di sekeliling. Mereka semua terlihat begitu biasa.
Di belakang ada orang kulit hitam pake baju kotak - kotak.
Di barisan bangku paling belakang, ada dua orang yang lagi pacaran.
Mereka semua terlihat biasa.
Padahal, siapa tahu orang kulit hitam itu terjangkit penyakit mematikan. Siapa tahu, dua orang yang lagi pacaran itu baru aja berantem. Tapi bagi gue, bagi orang yang ngeliat dari luar, mereka terlihat biasa.

Gue juga pasti terlihat biasa.
Padahal, seminggu kemaren gue baru putus.
Di dalem bentuk tubuh yang biasa - biasa ini, gue lagi remuk redam hancur minah, compang camping, kuda bunting. Tapi bagi orang lain yang ngeliat, gue terlihat biasa. Karena apa pun masalah kita, serumit dan sekompleks apa pun, orang lain akan tetap jalan dengan hidupnya, seolah tidak memedulikan. Life goes on.

Gue masih duduk di ruang tunggu terminal.
Headphone di telinga memainkan I Do-nya Ten2Five.
Di saat - saat baru putus seperti ini, denger lagu cinta bawaannya pengen garuk - garuk tanah.

Gue pun menaiki bus 10 jam tersebut.
Bangku di dalam bus itu seperti bangku dalam pesawat, namun jauh lebih empuk dan lebar. Toilet ada di dalam bus. Kursi bisa dimundurin. AC bisa di atur. Sepertinya perjalanan panjang ini bisa dinikmatin dengan suka cita.

Disinilah gue berada.
Lagu di headphone memainkan Stellar-nya Incubus.
Duduk di atas bus menuju Kota Melbourne.

Bis pun berjalan perlahan - lahan. Supir bis berbicara melalui mic, dengan resmi membuka perjalanan panjang ini.
Ya, akhirnya gue ke Melbourne juga.
Ada dua alasan bagi gue untuk pergi kesana naek bus. Yang pertama adalah karena gue gak punya duit buat naek pesawat. Yang kedua adalah karena gue pengen di dalem bus selama 10 jam ini, tanpa bacaan, tanpa kerjaan, gue bisa memaksakan diri untuk berfikir.
Ya, berfikir.
Berfikir tentang hubungan terakhir gue yang baru putus ini. Biasanya, sehabis putus, gue akan bersedih - sedih sejenak lalu perlahan - lahan mengambil serpihan hidup dan ceria seperti sedia dulu kala. Tapi ini beda, kali ini gue 2,5 tahun pacaran dan putus dengan sukses.
Gue tahu, gue harus mencari tahu apa yang salah ?

Waktu kita pacaran dulu, dia pernah bilang, 'Disana ada bulan engga?' Dengan gagang telepon di kuping kanan, gue ngelirik ke balik jendela apartemen. Gue bilang. 'ini, ada kok. Aku lagi ngeliat.'
Dia bales, 'Aku juga lagi ngeliat. Lucu yah, gimana jauhnya kita ini, kepisah dua benua kayak gini, tapi kita masih bisa ngeliat benda yang sama. aku jadi ngerasa deket.'

Lagu di headphone memainkan For What Its Worth-nya Cardigans.
Gue bengong.
Lagu ini membawa ingatan gue ke setahun yang lalu.

Setahun yang lalu, malam itu sekitar pukul setengah sembilan, gue masih berdiri di samping lapangan Fakultas Ilmu Budaya, masih di dalam kawasan Universitas Indonesia, Depok.
Gue berdiri sambil menonton sebuah band beraliran blues yang lagi manggung. Disamping gue berdiri dia, sambil sesekali menggoyangkan kepala mengikuti beat dari band blues itu. So far so good.
Lalu lagu terakhir selesai dimainkan. Sang MC pun balik ke atas panggung, dan mengumumkan bahwa band berikutnya yang akaan tampil adalah Klarinet.
Sekedar informasi, band itu adalah salah satu band yan gue kagumi, dan begitu pula dengan dia. Band tersebut pula yang bisa memicu kenangan kita berdua saat masih zaman - zamannya ngeband bareng temen - temen band yang lain. Simply, It`s one of your favourite bands.
Tapi gak semuanya berjalan sesuai rencana, hujan pun turun. Perlahan - lahan mulai deras sampai pada akhirnya kita sudah tak bisa menolerir lagi dan harus mencari tempat untuk berteduh.
Tapi setelah menemukan tempat berteduh, dia bilang ke gue, 'Ayo, ke depan yuk, ujan - ujanan aja. Gak papa!'
Ide itu langsung gue sambut, dan kita pun ujan -ujanan berdiri ke deket panggung dan menonton Klarinet manggung. Di tengah ujan, kita hanya berlindung pada sehelai jaket biru punya gue, berdua di bawah jaket mencoba untuk menikmati lagu yang ada dan mengingat sebanyak mungkin kenangan yang pernah ada.
Selang beberapa lama kemudian, lagu For What It`s Worth dari Cardigans dibawain ama klarinet. Lagu itu adalah lagu saat gue lagi suka - sukanya ama dia, dan itu berarti banyaaaaaakkk banget buat kita berdua.
Sepertinya malam sudah menstimulasi pikiran kita masing - masing dan kita pun terbius, secara ga sadar ikut menyanyikan lirik lagu itu.

For What it`s worth I love you,
And what is worse I really do...


Dan diiringi sayup - sayup sepenggal lirik yang kita berdua ingat selalu, ditemani suara rintikan hujan yang membuat kita berdua seakan - akan pengen tetep sama - sama hanya agar merasa hangat secara hati..., dia pun meletakkan matanya ke mata gue, dan bilang tiga rangkai kata yang sampai sekarang bisa bikin gue merasa begitu spesial...'I love u'. Gue pun membalas ucapannya.
Dan dibawah hujan, di bawah jaket biru gembel gue, dengan lagu kita dimainkan di belakang, 'we kissed.


Gue menghela nafas kembali.
Di sebelah gue, si John sepertinya udah tidur. Gue ngeliatin mukanya yang sedang tidur. Polos seperti bayi. Bayi gorila. Tiba - tiba dia kebangun dan ngeliatin muka gue yang lagi ngeliatin dia.
John ngeliat lurus ke depan dengan pandangan kosong. Kayaknya ngantuk.
'So, how is it going?' gue coba untuk basa - basi.
'Me ? Fine...'Dia jawab dengan muka ditekuk dan napas diembuskan.
'Fine? Hehehe...'Gue ketawa kecil.
'What?'
'No, it's just...the way you say "fine". Doesn't sound fine enough for me.'
Dia diem sebentar, 'Well, in our life there`s always some problem, mate.'
Love problem?" Gue nanya
Dia diem, lalu bilang, 'Well, sort of ...'
Menemukan kesamaan, gue langsung ngomong membabi-buta. 'Yeah, I also have problem at the moment. It`s hard I know it, I'm feeling the ache as I speak and I hope by flattening my ass off in this bus will help me feel better and hopefully able to smile again.'
Dia diem. Diem. Diem. Lalu dia bilang, 'Huh? What ?'
Gondok, gue diem aja.
Gue menyadari, rupanya John, si bule ini sedang bete.

Memang menyakitkan, segimana besarnya masalah kita, orang - orang lain akan tetep berjalan maju. Tidak ada yang memahami. Walaupun ketika kita cerita mereka pasti akan bilang. 'Gue tau apa rasanya.' tapi mereka tidak bener - bener tahu. Karena mereka tidak di dalem posisi kita. Tidak.
Orang - orang lain akan tetap memperlakukan kita seperti biasa. Tanpa tau apa yang kita jalani. Tanpa tau apa yang kita sedang alami. Sebesar apa pun badai yang ada di hati kita saat ini. The world will keep on moving, and I'll keep on standing.
Satu - satunya cara adalah untuk terus berjalan maju. Dan gue, harus ngelupain dia begitu bus ini nyampe di Melbourne.
Gue mencoba untuk tidur.


Satu jam kemudian gue terbangun.
Bus udah gelap, lampunya udah dimatiin. Gue nyoba ngeliat di balik kaca. Semuanya terlihat gelap. Cahaya bulan yang agak sedikit redup hanya mampu menunjukkan sedikit saja pemandangan di luar. Begitu gelapnya, sehingga apa yang gue liat di kaca adalah pantulan diri gue sendiri.
Gue manyun.
Aneh, di kaca gak keliatan apa – apa, padahal di luar ada pemandangan untuk di lihat. Tapi begitu gelap. Mirip seperti hubungan gue dulu sama dia, hubungan kita bisa begitu gelap padahal kita berdua tahu, seandainya saja lampu itu dinyalakan atau bulan lebih diterangkan, maka kita bisa ngeliat pemandangan bagus. Kata Plato, yang namanya “gelap” itu gak ada, yang ada itu kekurangan cahaya.
Mungkin kita udah meredup.
Pada hati.
Pada kepercayaan yang udah lama sekarat, lalu mati diam – diam. Mungkin janji yang kita ucapin dulu bisa dengan gampang dilupakan setelah kita mulai membuat janji yang baru, janji yang juga tidak bisa ditepati.

Banyak alasan untuk orang putus cinta.
Ketidaksamaan dari apa yang kita beri dengan apa yang kita terima. Masalah eksternal, agama, orangtua, teman, atau pihak ketiga.
Tapi apa yang salah dengan hubungan kita, gue pengen mengerti.
Dia bilang waktu itu, masalahnya pada jarak.
Jarak.
Jarak.
Gue ngulang kata jarak sampe kata tersebut udah ga ada artinya lagi.
Gimana jarak yang dulu itu bisa kita hadapi dengan angkuh tapi sekarang malah jadi penyebab hancurnya hubungan ini. Mungkin jarak sudah lebih kuat dari apa yang kita punya sekarang.
Atau, mungkin, kita sudah tidak lagi melihat bulan yang sama.

“Ladies and gentlemen, we have arrived in Melbourne. We will be arrived shortly to the central bus station on Burke Street. The time is now 8.30 in the morning.” Suara sopir bis membangunkan gue. Gue nguap lebar.

Gue ngambil ipod yanga da didalem tas biru gue di bawah kursi. Baterenya tinggal satu. Gue ngeliat ke arah luar jendela, pemandangannya jadi jelas sekarang.

Headphone di kuping pun memainkan lagu But Not For Me oleh Chet Baker.
Although I can`t dismiss…
The memory of her kiss…
I guess she’s not for me….

Pemandangan jadi jelas di luar jendela. Bulan tidak lagi kelihatan. Dengan berakhirnya lagu ini, dengan terlihatnya Kota Melbourne…
Aku sudah bisa melupakan kamu.






Cinta Brontosaurus - Raditya Dika


0 comments:

Post a Comment

Footer

Lorem Ipsum

Welcome

Ketika tak bisa lagi bersuara, tak sanggup berperang mulut, lewat tulisan ku sampaikan semuanya.
Powered by Blogger.